Renewables Energy

Abstrak
Tulisan ini merupakan bagian pertama dari dua bagian mengenai Potensi “Renewables Energi”. Di dalam bagian pertama ini fokus kajian pada literatur dan analisa penulis mengenai fenomena konsumsi energi di dunia dan berbagai upaya untuk keluar dari ketergantungannya atas sumber daya konvensional dan non renewable seperti minyak bumi, gas dan batubara. Dalam tulisan ini, penggambaran atas kerentanan sumber energi konvensional akan hanya sedikit diperlihatkan di awal pengkajian, selanjutnya akan lebih mendalam mengkaji sumber energi alternatif yang khususnya berasal dari produk renewables sources yaitu ethanol sebagaimana telah berhasil dikembangkan di Brasil dan beberapa fakta mengenai perkembangan implementasinya di Indonesia. Di akhir tulisan, akan dipaparkan beberapa pendapat pro-kontra dari para ahli botani maupun ekonomi mengenai penggunaan tanaman sebagai alternatif sumber energi.

1 Energi Konvensional
Kebutuhan energi dunia dalam dasawarsa belakangan ini meningkat tajam, hal ini terutama terlihat dalam bentuk konsumsi energi yang paling umum dipakai yaitu bahan bakar kendaraan dan listrik, baik itu penggunaan sisi industrial maupun rumah tangga. Pemenuhan sumber energi tersebut umumnya masih mengandalkan pasokannya dari sumber energi fosil baik dalam bentuk minyak bumi maupun batubara. Sifat awal pembentukannya yang berbasis fosil ribuan tahun maka sumber energi ini rentan terhadap kontinuitas pasokannya karena tingkat konsumsi yang terus menerus dan berkencenderungan meningkat namun tidak ada pembaharuan pembentukan sumbernya. Keandalan supply dari sumber energi ini akan sangat tergantung dari temuan-temuan lahan baru exploitasi sumbernya.
Selain permasalahan pasokan, sumber energi ini yang sifat pasokannya terbatas dari segi jumlah maupun lahan exploitasinya maka isu-isu politis dan keamanan kerap menjadikannya rentan terhadap krisis akibat kedua hal tersebut.
Peningkatan peralatan berbasis listrik dan peningkatan jumlah kendaraan menjadi andil terbesar dalam pembentukan kekuatan sisi permintaan, sementara di sisi penawarannya kita semua mengetahui adanya keterbatasan pasokan dan kerentanannya terhadap isu-isu seputar masalah politik dan keamanan, menjadikan harga energi ini sangat dinamis fluktuatis. Peningkatan jumlah produksi barel perhari dari negara-negara produsen baik yang tergabung dalam OPEC maupun tidak akan menurunkan harga internasionalnya. Namun, stabilitas hargalah yang lebih diinginkan industri secara keseluruhan. Sebagai iliustrasi, dalam satu dua minggu terkahir ini, harga minyak bumi di perdagangan internasional kembali naik akibat adanya insiden-insiden penculikan orang asing di Nigeria (salah satu negara produsen besar). Insiden-insiden tersebut akibat dari konflik dalam negeri Nigeria tidak serta merta mengurangi kapasitas produksi dan pasokan per barel per hari negara tersebut, namun baru pada tingkat mengkhawatirkan mengganggu pasokan saja sudah dapat mengakibatkan guncangan pada harga internasional.
Sebagai ilustrasi, dapat dilihat di gambar 1 mengenai gejolak naik turunnya harga minya akibat masalah politik keamanan.

1.1 Perkembangan Transisi Konsumsi Energi
Stocker et.al (1975) sebagaimana dikutip dalam Harf et.al. (1980) menggambarkan, pada tahun 1850, hampir 90% kebutuhan energi Amerika bersumberkan dari kayu. Transisi 60 tahunan pertama atas energi terjadi saat amerika mulai dilanda krisis kelangkaan persediaan kayu dan pada tahun 1890, sumber energi kayu mulai digeser oleh batubara yang saat itu sudah dapat memenuhi setengah dari total kebutuhan energi amerika. Dominasi batubara mencapai puncaknya pada tahun 1910 dimana 70% energi amerika berasal dari batubara. Transisi ini juga dipicu oleh peningkatan keuntungan dari industri akibat pemakaian batubara sebagai sumber energi utama dimana kemudian dimulainya era industrialisasi. Di masa itu, minyak dan gas bumi pun sebenarnya sudah muncul dan mengambil porsi 20% dari total kebutuhan energi, dan transisi 60 tahunan kedua pun kemudian menyusul, yaitu 60 tahun kemudian, 1970, penggunaan energi minyak bumi mencapai puncaknya yaitu 70% dari total kebutuhan.
Pertanyaan berikut yang yang cukup mengguggah adalah apakah transisi ketiga akan berlangsung di 60 tahun berikut atau di tahun 2030? Pertanyaan ini logis muncul karena masih tersedia waktu 23 tahun dari sekarang, namun beberapa kajian energi alternatif bahkan sudah mulai di implementasi sejak dasawarsa lalu yaitu energi nuklir dan energi renewables atau berbasis tanaman yang menghasilkan bahan alkohol, serta mengingat posisinya saat ini sudah berkontribusi di kisaran 6% untuk nuklir dan 2% untuk renewables.
Namun demikian, energi nuklir tidak akan menjadi pembahasan dalam kajian ini.

1.2 Kondisi Konsumsi dan Cadangan serta Produksi
Secara umum, gambaran mengenai peningkatan kebutuhan sumber energi amerika tersebut juga diikuti oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi minyak bumi di dunia di tahun-tahun berikutnya seperti dapat dilihat di tabel berikut ini.

Disisi lain, sisi permintaan tersebut dihadapkan pada ketersedian pasokan yang dalam hal ini adalah ketersedian cadangan yang terkonfirmasi dan kapasitas produksinya seperti diilustrasikan dalam tabel berikut ini.


Ilustrasi kedua tabel diatas bukan untuk diperbandingkan, namun hanya dipergunakan sebagai gambaran poin-poin penting bahwa:
? Terjadinya peningkatan konsumsi secara kontinu.
? Ketersediaan cadangan sumber energi yang terbatas.
? Lebih dari separuh cadangan berada di daerah teluk.
? Presentase semua negara teluk dalam berproduksi lebih kecil dari presentase kontribusi cadangannya, hal ini berarti bisa memiliki simpanan cadangan yang lebih lama habis dibandingkan dengan negara produsen lainnya.
? Indonesia, hanya sedikit bagiannya dalam kontribusi cadangan dan produksi, hal in terlihat dari kecilnya persentase kontribusi asia, padahal kita masih berbagi lagi di dalamya bersama Brunei, Malaysia dan sumber sumber di Lepas Pantai Laut China Selatan.

Analisa analisa tersebut seharusnya sudah bisa menggiring kita bahwa kita memerlukan studi atas alternatif sumber daya energi hingga nantinya tidak perlu memiliki ketergantungan mutlak pada pemilik sumber daya tersebut.

1.3 alternatif energi
Langkah yang diambil Indonesia dalam 2 tahun terakhir ini sudah cukup tepat mengarah pada penggunaan energi alternatif. Penggunaan campuran BioSolar yang didapat dari minyak sawit sudah umum dipergunakan. Kampanye besar mengenai Bio Fuel pun kerap dikumandangkan dan implementasinya pun tengah digalakkan dengan perluasan kebun tanaman jarak dan pembangunan refinery minyak sawit menjadi bio solar.
Energi alternatif selain sawit dan jarak adalah berasal dari tanaman jagung, sorghum, poplar dan tebu. Tanaman-tanaman tersebut dapat menghasilkan ethanol yang kemudian ethanol itulah yang menjadi sumber energi.
Karena sifatnya yang merupakan tanaman yang bersiklus panen pendek atau kurang lebih hanya 3 bulanan maka alternatif tersebut renewables dan mudah pembudi dayaannya mengingat ketersediaan lahan yang ada.
Penggunaan ethanol menjadi ramai diperbincangkan sejak Amerika mengeluarkan Clean Air Act Amendments of 1990, yang intinya adalah kampanye pencegahan polusi udara akibat emisi karbondioksida melalui energi alternatif ethanol yang terbukti bila dicampurkan dalam bahan bakar kendaraan dapat menekan emisi gas buang tersebut atau lebih sering disebut sebagai Oxygenated Fuels Program. Hal inilah yang kemudian memicu kajian-kajian dan riset penggunaan ethanol sebagai campuran bahan bakar kemudian implementasinya dan pada akhirnya mempengaruhi peningkatan permintaan ethanol.
Dalam hal ini Amerika, mengacu pada Brasil untuk penerapan implementasi ethanol berbasis jagung dan tebu sebagai campuran bahan bakar dalam riset dan implementasinya, mengingat Brasil dengan ethanolnya berhasil menekan 40% konsumsi bahan bakar konvensionalnya pertahun dengan digantikan ethanol.

2 Energi Ethanol
Guna melengkapi informasi maka perlu kiranya kita sedikit memahami mengenai konsepsi ethanol itu sendiri. Bahan Bakar Ethanol termasuk katagori biofuel, sebagai alternatif bensin. Dalam pengkonsumsiannya, ethanol ini dapat dikombinasikan pencampurannya pada bensin hingga digunakan secara murni atau 100% sebagai bahan bakar atau dikenal sebagai E100. Pengkombinasian atau pencampuran ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi bensin konvensional dan mengurangi polusi udara akibat emisi gas buang, karena itulah ethanol juga dikenal sebagai energi ramah lingkungan. Di tahun 2004, seluruh dunia menghasilkan sekitar 42 milyar liter ethanol, dimana kebanyakan digunakan untuk bahan bakar kendaraan. Ethanol ini dapat diproduksi masal dengan melakukan proses fermentasi dari hasil panen tanaman yang mengandung gula.
Pertumbuhan produksi ethanol ini sebenarnya dipicu dari peningkatan permintaannya sebagai bahan campuran bahan bakar bensin kendaraan. Kebanyakan dari ethanol ini dihasilkan oleh tanaman pangan jagung, sehingga secara langsung, permintaan akan jagung pun meningkat signifikan. Sebagai akibat dari peningkatan permintaan ini maka praktis persediaan stok jagung menurun dan harga melonjak, sebagai ilustrasi, harga bid jagung dari US$ 2 menjadi US$ 4.

3 Industri Jagung
Jagung, yang saat ini konsumsinya baru terbatas sebagai bahan pangan dan pakan ternak berkembang utilisasinya menjadi bahan dasar ethanol. Perkembangan permintaan jagung sebagai bahan dasar tortila (makanan pokok mexico) akibat pertumbuhan penduduk Mexico dan ekspansi pemasaran penganan camilan tortila ke seluruh dunia memacu tingginya permintaan jagung. Ironisnya, 40% asupan protein masyarakat miskin Mexico berasal dari tortila ini yang saat ini mengalami krisis atas tingginya harga bahan bakunya yaitu jagung. Fenomena ini diperkirakan akan berlanjut mengingat tingginya permintaan jagung sebagai pakan ternak di wilayah Asia.
Dewan Jagung Nasional mencatat, pada 2003 Indonesia mengimpor 1,5-2 juta ton jagung. Jumlah ini menurun menjadi 400 ribu ton akhir 2005. Saat ini total produksi jagung nasional mencapai 11,4 juta ton per tahun. Pada 2010 diperkirakan kebutuhan jagung nasional 21,17 juta ton.
Data diatas menunjukan pertumbuhan produksi jagung di Indonesia dapat dikatakan menggembirakan dan diperkirakan akan mencapai tingkat swasembada. Hal ini dimotori oleh pertumbuhan cepat yang dikontribusikan oleh provinsi Gorontalo yang saat ini telah menjadi daerah rujukan pengembangan industri jagung. Bahkan setelah sukses mengembangkan jagung dan menjadi pemasok utama nasional, kali ini diikuti dengan pembangunan sarana refinery biofuel berkapasitas 300 juta liter per tahun guna pengolahan minyak sawit dan jarak sebagai bahan bakar alternatif.

4 Pro Kontra Ethanol Jagung
Merebaknya isu penggunaan ethanol sebagai campuran bahan bakar kendaraan mengundang kritik dan dukungan dari kalangan praktisi maupun akademisi. Kesuksesan Brasil dalam implementasi penggunaan campuran ethanol dalam konsumsi nasional bahan bakar kendaraannya di satu sisi merupakan prestasi luar biasa yang membuat negara tersebut mengurangi ketergantungannya pada pasokan energi konvensional. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari jalan panjang implementasi yang mereka lakukan sejak akhir tahun 70an dan ketersediaan lahan yang mencukupi. Brasil yang terkenal sebagai negara penghasil jagung dan tebu tidak mengalami kesulitan dalam konversi penggunaan tanaman pangan tersebut menjadi energi dan tidak mempengaruhi kondisi lokalnya dari sisi harga karena ketersediaannya yang cukup.
Di sisi lain, implementasi hal ini belum tentu sesuai bila dilakukan di negara lain karena beberapa isu seperti skala ekonomis distribusinya, penggunaan lahan, pengolahan dan dampak ekonomi lainnya, karena itu, berikut ini kita ikuti beberapa rangkuman alasan mengenai pro kontra penggunaan ethanol berbasis jagung.
4.1 Pro
Pendapat terkuat untuk dukungan penggunaan ethanol ini adalah karena masalah lingkungan dan dukungan terhadap penghidupan petani kecil.
Hal ini dikatakan dapat mendukung petani kecil karena dengan variasi penggunaannya dapat menciptakan sisi permintaan yang kuat sehingga petani memiliki pilihan menjualnya. Alternatif jagung sebagai pangan, pakan dan energi menjadikan harganya cukup kuat karena masing-masing pengguna memiliki kepentingannya masing-masing dalam menjaga pasokannya, oleh karena mekanisme itulah petani dapat tertolong dengan stabilnya tingkat permintaan di tingkat harga yang relatif tinggi.
Disis lain, pendapat yang sangat kuat adalah masalah keramah lingkunganan, bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar bensin konvensional, maka bahan bakar yang dicampur ethanol walaupun kandungan emisi buang atas karbon dioksidanya tidak terlalu berbeda namun secara signifikan lebih sedikit menghasilkan emisi karbon monoksida sehingga pada akhirnya dapat mengurangi efek gas rumah kaca.

4.2 Kontra
Pendapat yang menentang penggunaan ethanol berbasis jagung memiliki pendapat kuat bahwa bila di dunia ini penggunaan energi konvensional digantikan dengan ethanol berbasis jagung maka sisi permintaan dan harga jagung untuk keperluan pangan dan pakan akan meningkat. Bahkan hal ini sudah terjadi di Amerika, ketika penggunaan ethanol diimplementasikan, harga jagung di mexico meningkat tajam. Produksi skala besar dari produk ini tentunya memerlukan lahan yang luas dan konsumsi air yang tinggi, pembukaan lahan baru menjadi isu utama dalam hal ini apalagi bila pembukaan lahannya dilakukan seperti di Indonesia yaitu dengan metode pembakaran hutan, alih alih menjaga emisi polusi malahan mengekspor asap. Pembukaan lahan ini untuk para LSM internasional sangatlah bermasalah karena akan mengganggu habitat hutan dan eko sistemnya bahkan menurut mereka akan mengurangi kesuburan tanah akibat kehilangan materi organiknya. Pendapat yang terakhir ini sangat emosional dan masih sangat membutuhkan pembuktian riset oleh para ahli pertanahan. Para akademisi yang kontra ethanol berbasis jagung ini tidak melihat dampak ekonominya namun hanya mengusung masalah pelestarian hutan. Indonesia pun tak luput dari kritik mereka, mengingat kita masih memiliki ketersediaan lahan tanam yang luas.

5 Konklusi
Kesimpulan sementara dari studi literatur ini adalah bahwa pengunaan ethanol sebagai materi pencampur bahan bakar konvensional ini merupakan energi alternatif yang layak dipertimbangkan penggunaannya di Indonesia mengingat keberhasilan Brasil dalam menekan 40% konsumsi bahan bakar konvensionalnya. Sehingga masalah subsidi dan pembukaan lahan pekerjaan serta perolehan keuntungan dari harga komoditi ini yang tinggi. Masalah impor bahan bakar dapat digantikan oleh energi alternatif ini sehingga menghemat devisa. Ketersediaan lahan yang relatif luas dan struktur masyarakat pertanian yang kuat dapat dijadikan faktor pendukung cepatnya implementasi, hal in dapat dilihat dari keberhasilan Provinsi Gorontalo dari daerah minus menjadi sentra produksi jagung nasional.
Disisi lain, kajian dan riset atas teknologi konversinya menjadi sangat penting agar tidak kehilangan skala ekonomisnya dan dapat menghasilkan produktivitas hasil akhir yang tinggi sehingga transisi konsumsi bahan bakar ini menjadi signifikan menguntungkan. Namun juga harus didukung oleh peningkatan intensitas produksi per hektar nya agar efisien dalam penggunaan lahan. Kondisi swasembada jagung yang niscaya tercapai di tahun ini akan mendorong produksi untuk menghasilkan surplus dan bila surplus ini bisa dimanfaatkan agi konversi bahan bakar maka akan sangat menguntungkan dan menekan import serta ketergantungan.
Studi lebih lanjut mengenai kelaikan dan kondisi perproduksian ethanol berbasi tanaman ini akan dilanjutkan di bagian kedua tulisan, dengan mengetengahkan kajian ekonomis mengenai penggunaan jagung atau tebu sebagai bahan dasar produksinya serta kapasitas produksi nasional.
Kebijaksanaan kesimpulan akan dihadapkan pada tekanan pro pelestarian habitat hutan dan ekosistem sedangkan di sisi lain adalah mengenai upaya penekanan polusi udara dan kesempatan pertumbuhan agro industri yang berpihak pada petani jagung atau tebu.

Energy